TRIBUNNEWSWIKI – Mengenal Paronikia, Infeksi Jaringan pada Kaku Akibat Bakteri atau Jamur

<div ><div id='InformasiAwal'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Paronikia merupakan infeksi jaringan yang terjadi pada sekitar kuku jari jari tangan atau kaki. Infeksi ini bisa berbentuk seperti abses akibat infeksi bakteri atau jamur.

Kondisi ini terjadi saat adanya gangguan antara lapisan dari lempeng kuku dan dasar kuku bagian proksimal (menjauhi tubuh). Paranokia sendiri bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu akut dan kronis. Untuk paronikia akut, biasanya hanya melibatkan infeksi pada satu kuku jari.

Sementara itu, paronikia kronis bisa terjadi pada lebih dari satu kuku jari. Kondisi ini bisa terjadi pada waktu yang bersamaan atau berulang. <div ><div id='Penyebab'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Infeksi akut hampir selalu terjadi di sekitar kuku tangan dan berkembang dengan cepat.

Biasanya, hasil dari kerusakan kulit di sekitar kuku yang disebabkan oleh kebiasaan menggigit, memetik kuku, manicure, atau trauma fisik lainnya. StaphylococcusdanEnterococcusmerupakan bakteri yang paling sering menyebabkan paronikia akut. Untuk paronikia kronis, biasanya menyerang jari jari tangan atau kaki dan datang peralahan.

Kondisi ini bisa berlangsung dalam kurun waktu bberapa minggu, dan umumnya terjadi berulang. Paronikia jenis ini umumnya disebabkan oleh satu penyebab, dan seringnya terjadi pada mereka yang bekerja di air. Alasannya, kulit basah dalam waktu berlebihan dapat mengganggu lapisan alami kutikula.

Ini memungkinkan jamur dan bakteri untuk tumbuh di bawah kulit dan menyebabkan infeksi. Umumnya, paronikia lebih sering menyerang wanita dewasa dan orang orang yang mengidap diabetes. Di samping itu, mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, seperti orang yang harus minum obat kortikosteroid setelah transplantasi organ atau orang yang terinfeksi HIV juga rentan mengalami paronikia.

<div ><div id='Gejala'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Dalam kebanyakan kasus, gejala dari paronikia akut dan kronis sedikit sulit dibedakan, sebab gejalanya sangat mirip. Namun, gejalanya bisa dibedakan berdasarkan onset dan durasi infeksi.

Infeksi kronis yang dialami pengidapnya bisa datang secara perlahan, dan terjadi selama beberapa minggu. Sedangkan infeksi akut berkembang dengan cepat dan tidak berlangsung lama. Kedua infeksi dapat memiliki gejala berikut:

Ketika seseorang terserang paronikia, gejala awal yang muncul umumnya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan di sekitar pangkal atau sisi kuku. Andaikan yang terjadi paronikia akut, biasanya paronikia jenis ini sering menyebabkan kantung berisi nanah (abses). Abses ini bisa terbentuk di samping atau pangkal kuku atau kuku jari kaki.

Sedangkan paronikia kronis bisa saja menyebabkan pecahnya kutikula (lapisan kulit yang berada tepat di pangkal kuku). Kondisi inilah yang bisa berujung terpisahnya lempeng kuku dari dasar kuku. Hal yang perlu digarisbawahi, paronikia karena bakteri bisa lebih buruk dengan cepat, dibandingkan dengan paronikia yang disebabkan oleh jamur.

<div ><div id='Pengobatan'><ul ><li style='border bottom : 1px solid #a2a9b1;'><h2> </h2></li></ul> </div></div> Untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak akibat paronikia akut, cobalah kompres bagian yang mengalami infeksi menggunakan air hangat. Untuk hasil yang maksimal, lakukan 3 sampai 4 kali dalam sehari.

Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik jika paronikia disebabkan oleh bakteri. Di samping itu, dokter juga mungkin meresepkan obat anti jamur jika infeksi disebabkan oleh jamur. Namun, bila paronikia menyebabkan abses, penanganannya lain lagi.

Di sini dokter akan melakukan drainase, sebuah metode yang umum untuk mengatasi abses. Dokter akan membius area, memisahkan kulit dari pangkal atau sisi kuku, dan mengeluarkan nanah. Ada beberapa hal yang mesti diawasi oleh pengidap paronikia kronis.

Sebaiknya jagalah kondisi kuku agar tetap kering, dan lindungi dari bahan kimia yang keras. Pengidap mungkin perlu memakai sarung tangan atau menggunakan krim pengering kulit untuk melindungi kulit dari kelembapan. Mungkin juga diperlukan pemberian obat antijamur atau antibiotik, tergantung pada apa yang menyebabkan infeksi.

Dalam beberapa kasus, pemakaian krim steroid atau larutan yang terbuat dari etanol (alkohol) dan tiol (fungisida) diperlukan untuk menjaga kuku tetap bersih dan kering. Terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah paronikia akut, contohnya: Sementara itu, jagalah tangan tetap kering dan bebas dari bahan kimia unuk mencegah terjadinya paronikia kronis.

Gunakan sarung tangan saat bekerja dengan air atau bahan kimia yang keras. Ganti kaus kaki setidaknya setiap hari, dan jangan memakai sepatu yang sama selama dua hari berturut turut untuk memungkinkan mereka mengering sepenuhnya. <div >

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *