Kisah Wasit Wanita Asal Donggala, Ikuti Jejak sang Ayah, Pernah Pimpin Pertandingan Liga 1 Indonesia

Keberadaan wasit wanita dalam ajang seleksi Tim Nasional PSSI di Stadion Sepak Bola Gawalise, Kota Palu mencuri perhatian, Rabu (7/4/2021). Terlihat seorang wanita berhijab hitam berdiri di tengah lapangan dengan menggunakan atribut lengkap sebagai pengadil lapangan atau biasa disebut wasit. Dengan teliti, ia menjadi pengendali dan memberikan setiap keputusan dengan pluit ditangannya saat memimpin pertandingan seleksi ini.

Namanya adalah Ainun Fadillah, wanita asal Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Wanita yang lahir pada 28 Juni 1999 ini merupakan salah satu wasit wanita yang ada di Sulawesi Tengah. Bekal dari perguruan tinggi dengan jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) di Universitas Tadulako, Ainun cukup mengerti dengan tugas dan tanggungjawab sebagai wasit.

Ia mengawali menjadi wasit pada tahun 2018 tepatnya bulan Juli. Dengan tugas pertama sebagai asisten wasit (hakim garis) dan wasit cadangan. Pertandingan sepak bola Piala Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) usia 14 th, di Lapangan Abadi, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, menjadi debut pertamanya.

"Yang saya ingat itu tim SSB yang ada di Kota Palu dan di Sausu," ujarnya. Anak kelima dari enam bersaudara itu juga pernah memimpin pertandingan Liga 1 Indonesia (Putri), Dan laga Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra_Pon) Putri, di tahun sama 2019. "Waktu penyegaran wasit di Jakarta 3 hari, terus tugas pertama kali diajang nasional itu, liga 1 Putri di Jogja selama 1 Minggu, di Bali 1 Minggu, dan Pra_PON Putri di Makassar 1 Minggu juga," terang alumni SDN 1 Lero itu.

Ia berkata, awalnya tidak ada ketertarikan di dunia per wasitan sepak bola. Namun karena ada dukungan dan dorongan dari orangtuanya, sehingga ia mencoba profesi itu. "Pada saat pertama jadi wasit, di situ saya mulai tertarik degan profesi itu, dan sampai sekarang saya tekuni menjadi seorang wasit sepakbola," jelasnya

Motivasi keluarga membuat Ainun sampai saat ini menyukai profesinya, sebab ia juga dibesarkan di keluarga dengan profesi sama. "Kakak pertama dan bapak saya, juga merupakan mantan seorang wasit sepak bola," ujarnya. "Saya mengikuti Kursus 2018 di Wisma Haji, kurang lebih satu mingguan," tutupnya.

Setidaknya sampai saat ini ia sudah menjadi pengadil di lapangan lebih dari 10 kali, Baik dari pertandingan lokal maupun nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *